Berita Codex Indonesia

Galeri Foto

 Lihat Semua

Sidang ke-37 CCMAS: Indonesia Harus Menyiapkan Data Validasi Metode Analisa Lipid Pada Tempe

29 Feb 2016 8:09 AM

Sidang ke-37 Codex Committee on Methods Analysis and Sampling (CCMAS) berlangsung di Budapest, Hungaria, tanggal 22-26 Februari 2016.  Sebagai komite horizontal dalam sistem Codex Alimentarius Commission (CAC), CCMAS mempunyai tugas membahas metode analisa dan sampling yang berlaku untuk seluruh komite komoditi, serta memberikan endorsement terhadap setiap usulan metode analisa dan sampling ke sidang komisi CAC sebelum diadopsi menjadi standar Codex.  Selain dihadiri oleh negara anggota, sidang CCMAS selalu dihadiri oleh organisasi internasional yang membahas metode analisa seperti AOAC, ISO, IDF, ICUMSA, AOCS, dll.

Delegasi Indonesia diketuai oleh Drs. Dede Erawan, MSc, Kepala Pusat Akreditasi Laboratorium dan Lembaga Inspeksi BSN selaku koordinator Mirror Committee (MC) CCMAS dengan anggota delegasi dari BSN, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perdagangan, serta perwakilan ITPC di Hungaria.

Sesuai dengan tugasnya, salahsatu agenda yang selalu dibahas dalam sidang CCMAS adalah Endorsement of Methods of Analysis Provisions and Sampling Plans in Codex Standards. Indonesia memiliki kepentingan dalam agenda endorsement karena metode penetapan analisa lipid pada tempe hingga saat ini masih dalam pembahasan di forum Codex meskipun standar tempe telah diadposi menjadi standar Codex.

Metode analisa untuk penetapan lipid pada tempe yang saat ini tercantum dalam standar Codex adalah AOAC 983.23.  Metode ini telah diusulkan untuk diganti oleh CCMAS mengingat dalam prosedur analisanya menggunakan kloroform yang saat ini telah ditinggalkan karena membahayakan kesehatan.  Sebagai gantinya, CCMAS mengusulkan metode ISO 1211|IDF 1:2010 yang kemudian disetujui di forum Codex Regional Asia (CCASIA) sebagai komite yang mengembangkan standar tempe.

Permasalahan kemudian timbul karena perwakilan ISO dan IDF (International Dairy Federation) yang menjadi observer di Codex menyampaikan bahwa metode tersebut asalnya adalah untuk produk susu yang berbentuk cair sehingga belum tentu cocok untuk analisa tempe yang bentuknya padat.  Untuk memecahkan permasalahan tersebut, CCMAS mengedarkan circular letter (CL) keseluruh Negara untuk meminta informasi tentang penggunaan metode ISO 1211|IDF 1:2010 ini pada lipid.

Sekretariat Codex Contact Point (CCP) BSN merespon permasalahan ini dengan mengkoordinasikan pembahasan di tingkat nasional yang melibatkan laboratorium dan ahli di bidang metode analisa lipid pada tempe.  Berdasarkan kesepakatan Indonesia menjawab CL dari Codex dan menginformasikan bahwa metode ISO 1211|IDF 1:2010 belum pernah digunakan di Indonesia dan mengusulkan metode AOAC 963.15 sebagai alternatif.

Sidang CCMAS saat ini membahas usulan yang disampaikan oleh Indonesia tersebut.  Pada awalnya, pertemuan working group (WG) yang dilaksanakan sehari sebelum pembukaan sidang (tanggal 21 Februari 2016) yang juga dihadiri oleh delegasi Indonesia menolak usulan Indonesia karena metode tersebut menggunakan boiling water dalam preparasi sampelnya untuk membuat homogenous suspension.  WG menyampaikan bahwa belum ada bukti boiling water efektif untuk preparasi tempe yang karakteristiknya berbeda dengan produk kakao.

Untuk merespon hasil pertemuan WG, pada pertemuan informal Asia sebelum pembukaan sidang, delegasi Indonesia menjelaskan posisinya dan melakukan lobi ke negara-negara Asia sehingga mereka dapat mendukung usulan Indonesia.  Berdasarkan masukan dan kesepekatan di meeting Asia, pada saat sidang berlangsung delegasi Indonesia menyampaikan bahwa metode AOAC 963.15 telah secara luas digunakan oleh laboratorium di Indonesia, dengan modifikasi pada preparasi samplenya.  Metode ini juga sudah di adopsi oleh Codex untuk produk lain selain kakao, sehingga Indonesia tetap mengusulkan AOAC 963.15 sebagai alternatif metode untuk menggantikan AOAC 983.23.  Namun demikian, diperlukan validasi terhadap metode tersebut yang menunjukkan bahwa pada produk tempe metode tersebut juga applicable.  Komentar Indonesia ini dapat diterima oleh CCMAS.  Ketua sidang menambahkan bahwa metode AOAC 983.23 sementara ini masih tetap dipertahankan di standar, dan mengingat informasi yang masuk ke CCMAS untuk mengganti metode tersebut hanya dari Indonesia, Indonesia sangat diharapkan dapat melakukan validasi terhadap AOAC 963.15 dan dapat disampaikan pada pertemuan berikutnya.

Dengan demikian, Indonesia mempunyai tugas untuk menyiapkan data validasi terhadap metode AOAC 963.15 untuk analisa lipid pada tempe.  Untuk itu, diperlukan koordinasi dengan laboratorium-laboratorium terkait di Indonesia sehingga data validasi ini dapat tersedia untuk disampaikan pada sidang CCMAS tahun 2017.

Agenda lain yang penting bagi Indonesia adalah pembahasan faktor konversi nitrogen pada produk kedelai secara umum.  Indonesia mengusulkan faktor konversi 5.71 sesuai dengan literatur ilmiah khususnya review yang telah dilakukan FAO tahun 2002. Faktor konversi tersebut telah ada di standar tempe dan fermented soybean paste yang dikembangkan oleh CCASIA. Namun demikian, beberapa negara dan organisasi internasional menganggap 6.25 merupakan faktor konversi yang lebih tepat.  Pembahasan ini melibatkan beberapa komite komiditi yang memiliki standar yang produknya mengandung kedelai, seperti Codex Committee on Nutrition and Foods for Special Dietary Uses (CCNFSDU) yang mengembangkan standar untuk produk formula bayi dan formula untuk anak berkebutuhan khusus.

CCMAS memutuskan bahwa CCMAS tidak dalam posisi untuk menjawab pertanyaan tentang faktor konversi nitrogen. Komite menyetujui bahwa faktor konversi harus ditetapkan secara ilmiah dan harmonized untuk standar Codex yang berbeda.  CCMAS berpendapat bahwa mungkin sudah saatnya FAO dan WHO menyelenggarakan expert panel untuk mereview literatur yang ada dalam rangka menilai dasar ilmiah penetapan faktor konversi protein.

Selain kedua isu tersebut, CCMAS juga membahas agenda lain yang masih dalam tahap pengembangan dan belum memasuki tahap prosedur pengembangan standar baru (new work) seperti kriteria untuk endorsement metode bilogis untuk mendeteksi bahan kimia, serta ide untuk menyusun format CODEX STAN 234-1999 yang berisi rekomendasi metode analisa dan sampling yang direkomendasikan oleh Codex.  Agenda ini akan dilanjutkan pembahasannya pada pertemuan berikutnya.

Copyright © 2017 Codex Indonesia. All Rights Reserved.