Berita Codex Indonesia

Galeri Foto

 Lihat Semua

Indonesia Perlu Meningkatkan Peran Aktif di Forum Codex

16 Dec 2015 8:25 AM

Panitia Nasional Codex Indonesia menyelenggarakan pertemuan di Jakarta, Senin (14/12/2015). Ini adalah pertemuan Panitia Nasional Codex Indonesia yang ke-3 di tahun 2015, setelah sebelumnya telah dilakukan pertemuan pada bulan Maret dan Juli 2015. Sesuai dengan Pedoman Penanganan Codex Indonesia tahun 2011, rapat Panitia Nasional Codex Indonesia dilaksanakan minimal dua kali dalam setahun untuk membahas isu-isu penting yang dibahas di Codex dan terkait kepentingan Indonesia serta yang memerlukan kebijakan dari Panitia Nasional.

 

Pertemuan kali ini dilaksanakan atas kerjasama Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) serta PT Nestle Indonesia. Rapat dipimpin Deputi Bidang Penelitian dan Kerjasama BSN, Kukuh S. Achmad –yang mewakili Ketua Panitia Nasional Codex Indonesia yang dijabat oleh Kepala BSN. Pertemuan dihadiri Ketua GAPMMI, Adhi S. Lukman; Prof. F.G. Winarno dari PT. M-Brio Biotekindo; Pengurus Harian YLKI, Huzna Zahir; Ahli Pangan dari IPB, Prof. Purwiyatno Hariyadi; dan perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, BPOM, Kementerian Luar Negeri, serta BSN sebagai Sekretariat Codex Contact Point Indonesia.

 

Pembahasan agenda pertama, didahului dengan penyampaian hasil sidang Codex Alimentarius Commission (CAC) ke-38 yang diselenggarakan di Genewa, Swiss pada tanggal 6 – 11 Juli 2015 lalu. Disampaikan oleh Kepala Bidang Sistem Pemberlakuan Standar dan Penanganan Pengaduan - BSN, Anna Melianawati selaku Sekretariat Codex Contact Point di Indonesia. Anna menyampaikan bahwa sidang CAC tersebut telah menyetujui secara konsensus terhadap usulan beberapa Codex Comittee baik sebagai standar, draft standard, new work, revocation standard, maupun discontinuation of work.

 

 

 

 

Sehubungan dengan hal tersebut, sesuai Renstra Codex Indonesia 2013 – 2018 tujuan 3 yaitu meningkatkan pemanfaatan Standar Codex untuk Memperkuat Sistem Regulasi Pangan Nasional, pertemuan Panitia Nasional Codex Indonesia merekomendasikan agar standar Codex yang baru ditetapkan itu, dapat dijadikan rujukan bagi kebijakan pangan di Indonesia. “Standar Codex yang disetujui dapat diadopsi ke dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) atau sebagai rujukan dalam penyusunan regulasi teknis bidang pangan di Indonesia”, ujar Kukuh.

 

Adapun usulan Codex Comittee yang disetujui sebagai draft standar, yang terkait dengan kepentingan Indonesia yakni tentang Maximum Level for Inorganic Arsenic in Husked Rice dan General Standard for Processed Cheese, perlu ditindaklanjuti dengan persiapan data dukung ilmiah sehingga Indonesia dapat berpartisipasi aktif dalam perumusan tahap selanjutnya. Dalam hal ini, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan BSN, tengah melakukan penelitian maximum level untuk Inorganic Arsenic pada husked rice untuk mendapatkan data yang tepat dan akurat.

 

 

Selain hal di atas, pertemuan Panitia Codex Indonesia juga mengusulkan Prof. Purwiyatno Hariyadi, PhD. untuk menjadi Vice Chair Codex tahun 2017. Purwiyatno, ahli pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dinilai sangat layak untuk menduduki jabatan tersebut. Keahlian di bidang pangan juga ditunjang oleh pengalamannya di kegiatan Codex.

 

Purwiyatno memperoleh gelar PhD dari University of Wisconsin, Madison, USA. Ia pernah menjadi Vice-Chairperson the 16th Session of the FAO/WHO Regional Committee for Asia (CCASIA) pada November 2008. Juga menjadi Vice-Chairperson the 25th Session Codex Committee Processed Fruits and Vegetables (CCPFV) pada Oktober 2010. Yang terakhir menjadi Vice-Chairperson the 36th Session Codex Committee on Nutrition and Foods for Special Dietary (CCNFSDU) pada November 2014. Purwiyatno adalah anggota Panitia Nasional Codex Indonesia sejak tahun 2010 hingga saat ini.(denny,ria)

Copyright © 2017 Codex Indonesia. All Rights Reserved.