Berita Codex Indonesia

Galeri Foto

 Lihat Semua

Indonesia Mampu Lakukan Swasembada Garam Konsumsi

13 May 2013 13:41 PM

 

Sebagai negara maritim dengan wilayah yang sebagian besar merupakan lautan, Indonesia mempunyai banyak potensi ekonomi yang bersumber dari kekayaan laut. Potensi perikanan, pariwisata, bahkan minyak bumi, dan garam yang semuanya terdapat di laut Indonesia.

 

Namun demikian, memang dalam mengelola kekayaan laut tersebut bukanlah hal mudah. Artinya dibutuhkan teknologi, modal dan kemaunan yang tinggi, guna menjadikan laut sebagai sumber perekonomian negara, yang besar manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat.

 

Seperti garam, walaupun Indonesia memiliki laut yang luas, dan iklim tropis yang sangat cocok untuk memproduksi garam, tetapi secara produksi nasional produksi garam nasional belum mampu mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri. Walaupun itu hanya sekedar memenuhi kebutuhan garam konsumsi dan industri sekitar 3 juta ton per tahunnya.

 

Dengan kondisi produksi garam nasional yang masih rendah, sebagai contoh berdasarkan neraca kebutuhan garam konsumsi tahun 2012, yang pehitungannya didasarkan sisa stok produksi tahun 2011, masih defisit/ kekurangan stok sebanyak 533, 096 ton. Sementara, kebutuhan garam konsumsi secara nasional mencapai 1,4 juta ton per tahun. Pemerintah terpaksa harus melakukan impor, guna memenuhi kebutuhan pasar nasional untuk garam konsumsi. Sementara untuk kebutuhan garam industri sampai tahun 2013 ini masih diimpor.

 

Namun demikian, sejak tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui program Pemberdayaan Usaha garam Rakyat (PUGAR), telah dapat memcapai produksi garam yang cukup tinggi, yaitu 2,020,109 ton pada tahun 2012. Bahkan, Menteri Kelautan dan Perikanan meyakinkan bahwa Indonesia bisa melakukan swasembada garam industri pada tahun 2015.

 

Sementara swasembada nasional garam konsumsi sudah terlampau dengan capaian produksi garam dari PUGAR. Diharapkan, nantinya bisa menjadi eksportir untuk produk garam konsumsi beryodium. Dengan demikian, pemerintah menetapkan beberapa wilayah sebagai sentra industri garam nasional, seperti Madura, Kupang, dan beberapa daerah lainnya.

 

Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP), Sudirman Saad mengatakan, untuk mencapai swasembada garam industri pada tahun 2015 mendatang, banyak hal yang telah dilakukan KKP.

 

Salah satunya dengan memberikan teknologi tepat guna kepada petani garam. Di antaranya adalah teknologi produksi melalui Teknologi Ulir Filter (TUF), dan teknologi pengolah garam dengan memberikan fasilitas unit-unit pengolah garam, untuk meningkatkan kualitas garam rakyat sesuai dengan standart SNI.

 

Bahkan, hasil riset BPPT, BPPT telah mampu mengolah garam rakyat dengan kualitas garam industri. Yang dapat diimplementasikan untuk mengolah garam rakyat, guna mendapatkan kualitas yang lebih baik.

 

Program tersebut dikatakan Sudirman, terbukti berhasil menaikan produksi garam nasional. Bahkan, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat petani garam. "Untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam, KKP dan Kementerian Perdagangan beberapa waktu lalu telah menetapkan harga eceran terendah untuk garam dengan kwalitas 1 dan 2," sebutnya.

 

Dengan begitu, ke depan tidak ada lagi tengkulak yang bermain-main dengan harga garam, yang bakal merugikan petani. Memang, tidak dipungkiri bahwa sekarang ini harga garam belum stabil. Perlu pembenahan terhadap tataniaga garam dan ketentuan importasi garam, agar berpihak pada petani garam.

 

Kebutuhan Nasional

 

Dijelaskan Sudirman, pada tahun 2012 kebutuhan garam nasional mencapai 1,4 juta ton dan pada semester I tahun 2013 kebutuhannya mencapai 720 ribu ton. Secara rinci untuk produksi dan stok garam nasional pada tahun 2012 lalu mencapai 2,9 juta ton. Itu didapat dari produksi garam rakyat Pugar dan non Pugar sebanyak 2,473 juta ton, serta dari PT Garam 385 ribu ton. Sisanya adalah sisa stok garam impor tahun 2011, yang masuk ke Indonesia sebanyak 119,9 ribu ton.

 

Dengan demikian, surplus produksi garam nasional pada tahun 2012 sudah mencapai 1,5 juta ton. Artinya, Indonesia sudah bisa menjadi eksportir garam konsumsi pada tahun 2013 ini. "Saat ini wilayah garam nasional terdapat di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Jadi melalui produksi garam rakyat di 9 Provinsi tersebut, kita sudah bisa memproduksi 2,473 juta ton pada tahun 2013," tutur Sudirman.

 

Dia meyakini, angka tersebut akan terus meningkat seiring dengan komitmen pemerintah untuk menutup kran impor. Ini perlu dilakukan guna melindungi petani garam dari anjloknya harga.

 

"Kami juga akan memberikan bantuan untuk pembuatan gudang-gudang garam. Petani nantinya bisa menyimpan hasil produksi mereka saat harga garam lagi anjlok dan bisa menjualnya kembali saat harga garam sudah stabil," jelas dia.

 

Sudirman meyakini, peningkatan produksi garam juga bisa didapat dengan program pengembangan proyek percontohan. Yakni, budidaya garam menggunakan teknologi Korea seluas 100 hektare di Lombok Timur, Nusa Tenggara. Target produksinya 250 ton per hektare. Proyek tersebut akan dikembangkan secara nasional guna mencapai swasembada garam pada 2014.

 

Saat ini volume produksi garam di dalam negeri, yang selama ini berkisar 60-70 ton per hektare per musim, sebenarnya saat panen masih bisa digenjot dengan sentuhan teknologi yang tepat. Sesungguhnya, upaya peningkatan volume dan kualitas panen garam telah dilakukan sejak 2010. Upaya itu melalui program pemberdayaan usaha garam rakyat (Pugar), yang melibatkan para pendamping/ penyuluh, yang bertugas di sentra-sentra garam rakyat.

 

Program tersebut, lanjut Sudirman, telah mampu meningkatkan produksi garam nasional menjadi dua juta ton pada 2012. Namun, volume produksi sebanyak itu masih di bawah kebutuhan garam konsumsi maupun industri yang mencapai 3,2 juta ton (1,45 juta ton konsumsi dan 1,8 juta ton industri). Sebanyak 80 persen dari hasil panen garam tahun lalu pun masih berupa kualitas II dan III, dan hanya 20 persen kualitas I.

 

"Pada panen garam tahun ini diupayakan kualitas I mencapai 50 persen dan 50 persen kualitas II dan III, upaya itu akan dilakukan dengan membuat proyek percontohan menggunakan teknologi Korea di areal 100 hektare di Lombok Timur [saat budidaya garam pertengahan tahun ini]," ujarnya. (Bayu Legianto)

 

Sumber : Suara Karya Online, Senin 6 Mei 2013.

Link : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=326003

Sumber : Suara Karya Online

Copyright © 2017 Codex Indonesia. All Rights Reserved.